Mengenal dan Mencegah Mata Silinder/Astigmatisme

Mengenal dan Mencegah Mata Silinder/Astigmatisme

https://aplaplaclizame.files.wordpress.com/2017/05/mata-silinder.jpg

Definisi Astigmatisme

Astigmatisme merupakan gangguan refraksi mata yang disebabkan oleh kelainan bentuk lensa mata atau kornea sehingga penderitanya kesulitan untuk melihat objek secara jelas, baik dari jarak dekat maupun jarak jauh.

Pada umumnya, kornea mata normal berbentuk bola kasti, sedangkan bentuk kornea mata astigmatisme berbentuk seperti bagian belakang sendok, hal ini dikarenakan kornea mata yang tidak simetris. Sehingga saat menerima cahaya jatuhnya tidak akan tepat pada tempatnya, yaitu tepat pas pada satu titik fokus. Sehingga tidak dapat memberikan penglihatan yang jelas. Melainkan muncul pada beberapa titik, baik di depan retina, di belakang retina ataupun di kedua titik tersebut.

Penyebab Astigmatisme
Penyebab pasti astigmatisme tidak diketahui secara pasti. Diduga umumnya adalah kornea yang memiliki kecembungan yang tidak normal menyebabkan penglihatan tidak bisa fokus. Biasanya muncul sejak lahir, dan umumnya terjadi bersamaan dengan rabun jauh (hipermetropi) atau rabun dekat (miopia).

Astigmatisme bisa terjadi karena cedera pada kornea akibat infeksi, kondisi kelopak mata yag menggangu struktur kornea, atau Keratoconus dan keratoglobus, kondisi di mana kornea dapat berubah bentuk, baik mengggembung atau menipis dan bisa terjadi setelah menjalani operasi pada mata seperti operasi katarak.

Selain kornea, astigmatisme juga dapat disebabkan oleh lensa. Astigmatisme yang disebabkan karena lensa tidak dapat diperbaiki dengan penggunaan lensa kontak. Kebiasaan buruk saat membaca juga dapat menyebabkan astigmatisme.

Jenis Atigmatisme

  • Menrut jenis kerusakannya, terdapat 2 jenis astigmatisme, yaitu :
  1. Astigmatisme regular adalah ketika satu sisi kornea mata lebih melengkung dari sisi lainnya. Kondisi ini merupakan kondisi yang paling umum ditemui dan bisa diobati dengan menggunakan bantuan kaca mata atau lensa mata.
  2. Astigmatisme irregular adalah ketika kornea mata tidak rata tidak hanya di satu sisi, tetapi di seluruh permukaan kornea. Kondisi ini umumnya dipicu oleh cedera yang meninggalkan luka pada kornea. Kondisi ini bisa diobati dengan menggunakan bantuan contact lens, tapi tidak dengan kaca mata.
  • Menurut letak kerusakannya, dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
  1. Astigmatisme korneal disebabkan oleh cacat pada kornea mata.
  2. astigmatisme lentikular disebabkan oleh cacat pada lensa mata.

Gejala Astigmatisme

Benda yang letaknya jauh maupun dekat sama-sama terlihat buram

  • Penderita tidak dapat membaca tulisan yang ukurannya kecil.
  • Penderita selalu mengerutkan mata.
  • Sering mengeluh sakit kepala.
  • Kelelahan pada mata.
  • Sensitif terhadap sorotan cahaya (fotofobia)
  • Kesulitan membedakan warna-warna yang letaknya bersebelahan.
  • Kesulitan melihat gambar secara utuh, misalnya garis lurus yang tampak miring.
  • Penderita mengalami pengnlihatan ganda.

Diagnosis Astigmatisme

Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan untuk memastikan gejala dan memastikan diagnosis astigmatisme, antara lain :

  • Teskeratometer
    Tes keratometer dilakukan untuk mengetahui kondisi cacat pada kornea dengan melihat seberapa fokus cahaya yang diteruskan oleh kornea ke retina.
  • Tes ketajaman visual dilakukan untuk menguji ketajaman penglihatan terhadap suatu objek dari jarak tertentu dengan cara membaca suatu papan deretan huruf yang dikenal dengan nama Snellen chart.

Pengobatan Astigmatisme

  1. Penggunaan kacamata lensa silinder.
  2. Menggunakan lensa kontak. Lensa Soflens Toric untuk astigmatisma dirancang dengan desain yang unik untuk keperluan koreksi penglihatan khusus bagi orang yang menderita astigmatisme
  3. Operasi. Operasi dilakukan dengan menggunakan laser untuk memperbaiki lengkung kornea.

Beberapa jenis prosedur operasi yang menggunakan bantuan laser untuk pengobatan astigmatisme, yaitu :

  1. LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis),
  2. LASEK (laser sub-epithelial keratomileusis), dan
  3. Fotorefraktif keraktektomi (PRK).

Pencegahan Astigmatisme

  1. Melakukan olahraga mata. Dilakukan setiap hari terutama pada pagi hari dan sebelum tidur. Caranya dengan menggerakan mata kekanan dan kiri, kemudian pandangan lurus kedepan selanjutnya tekan kedua pelipis mata dengan kedua tagan, mijat searah jarum jam, lalu pijit perlahan bagian belakang bawah kepala.
  2. Kompres mata degan air hangat.
  3. Hindari kebiasaa buruk, seperti membaca buku terlalu lama, menonton dan bermain komputer terlalu lama.
  4. Menjaga kebersihan mata.
  5. Jangan menggunakan handuk, bantal atau gulug bersamaan dengan orang lain.

Presbiopia Ganguan Mata Pada Usia 40-an

Presbiopia Ganguan Mata Pada Usia 40-an

Lebih dari satu miliar orang di dunia memiliki presbiopia pada tahun 2005, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, penyandang rabun jauh sebanyak 517 juta jiwa ini tidak memiliki koreksi yang memadai dengan kacamata. Di negara-negara berkembang, kaca mata yang tersedia hanya di daerah perkotaan, namun di daerah pedesaan jarang tersedia kalaupun ada harganya cukup mahal. Hal ini sangat disayangkan, padahal penglihatan dekat yang baik sangat diperlukan guna menunjang pekerjaan.

Pengertian Presbiopia

Presbiopia atau rabun tua adalah berkurangnya kemampau penglihatan untuk melihat dekat amupun jauh sexcara bertahap akibat dari penuaan yang menyebabkan berkurangnya kemampuan lensa untuk dapat melengkung lebih tajam.

Jenis Presbiopi

  1. Presbiopi Insipien – tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesa didapati pasien memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila dilakukan tes, dan pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata baca.
  2. Presbiopi Fungsional – Amplitud akomodasi yang semakin menurun dan akan didapatkan kelainan ketika diperiksa.
  3. Presbiopi Absolut – Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi .fungsional, dimana proses akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali
  4. Presbiopi Prematur – Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan biasanya berhungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan.
  5. Presbiopi Nokturnal – Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap disebabkan oleh peningkatan diameter pupil.

Penyebab dan faktor Resiko Presbiopia

Presbiopia terjadi ketika lensa mata alami kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk berubah bentuk, seiring dengan bertambahnya umur seseorang. Kehilangan elastisitas lensa mengakibatkan mata kurang dapat memfokuskan sinar yang masuk secara akurat ketika melihat objek dekat.

Faktor yang dapat menyebabkan kemngkinan Presbiopia meningkat adalah :

  1. Usia.
  2. Obat-obatan, seperti antihistamin, antidepresan, diuretik untuk menghilangkan gela presbiopia dini.
  3. Faktor penyakit kronis lain, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular atau multiole sclerosis.
  4. Anemia, yang merupakan kekurangan sel darah merah
  5. Hyperopia, atau rabun dekat (tidak jelas ketika melihat benda-benda yang dekat).
  6. Myasthenia gravis, gangguan neuromuskuler yang mempengaruhi saraf dan otot.
  7. Trauma mata atau penyakit mata Insufisiensi vaskular, atau aliran darah yang buruk.

 

Gejala Presbiopia

  • Penglihatan bran ketika membaca jarak normal atau dekat.
  • Butuh pecahayaan tambahan ketika membaca.
  • Merasakan kelelahan mata atau sakit kepala serta sakit mata setelah membaca.
  • Sulit membaca huruf kecil.
  • Menyempitkan mata saat melihat objek dekat.
  • Berusaha menjauhkan buku saat membaca agar lebih terlihat jelas.

Diagnosis Presbiopiaa

Untuk memastikan kemugkinan pasie terkena presbiopia dokter akan megamati gejala yang dialami pasien dan melakukan pemeriksaa mata standar untuk memastikannya. Agar memudahkan pemeriksaan bagian dalam mata dokter akan memberikan obat tetes mata agar pupil melabar pada pasien.

Pengobatan Pesbiopia

Ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki penglihatan. Tergantung pada kondisi presbiopia yang sedang dialami dan gaya hidup pasien. Apapun yang akan dipilih pada prinsipnya adalah sama, yaitu mengupayakan agar bayangan cahaya jatuh tepat pada permukaan retina. Diantaranya :

  1. Peggunaan kacamata atau lensa kontak.
  2. Operasi
    Ada beberapa pilihan bedah untuk mengobati presbiopia antara lain:
  • Keratoplasty konduktif (CK) menggunakan energi frekuensi radio untuk mengubah kelengkungan kornea. Meskipun efektif, koreksi yang dihasilkan bisa saja berubah dari waktu ke waktu bagi sebagian orang (seperti pada kasus penggunaan kaca mata seperti di atas).
  • Operasi LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis) – dapat digunakan untuk tujuan monovision, artinya penyesuaian yang dilakukan hanya untuk satu mata, misalnya satu mata untuk penglihatan dekat dan mata lainnya untuk penglihatan jarak jauh.
  • Penggantian lensa mata alami dengan dengan lensa sintetis, yang disebut implan lensa intraokuler

Mata Merah Menimbulkan Komplikasi

Mata Merah Menimbulkan Komplikasi

Pada banyak kasus, Konjungtivitis tidak menunjukkan gejala yang berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Tetapi Anda butuh menemui dokter mata bila bayi Anda (khususnya yang baru berussia kurang dari 28 hari) menunjukkan gejala Konjungtivitis, karena bisa mengarah pada komplikasi kesehatan yang lebih buruk.

Definisi Konjungtivitas

https://aplaplaclizame.files.wordpress.com/2017/05/konjugtivitas.jpg?w=342&h=227

Konjungtivitis atau mata merah adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada mata, yakni di bagian konjungtiva. Konjungtiva sendiri merupakan lapisan tipis dan bening yang melapisi bagian putih dari bola mata dan lapisan dalam dari kelopak mata. Penderitanya akan mengalami mata merah sehingga penyakit ini sering disebut juga sebagai Pink Eye.

Penyebab Konjungtivitas

Penyebab utama adalah alergi, infeksi virus atau bakteri, objek asing dan mudah menular.

Ada 3 jenis konjng bativitas berdasarkan penyebabnya, yaitu :

  1. Konjungtivitis infektif: Disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dapat menulari orang lain bila ada seseorang yang menyentuh mata penderita.
  2. Konjungtivitis alergi: Disebabkan oleh alergi serbuk bunga dan tungau.
  3. Konjungtivitis iritasi: Disebabkan oleh bahan penyebab iritasi misalnya shampoo, air berklorin atau bulu mata.

Faktor Resiko Konjungtivitas

Faktor-faktor ini meningkatkan risiko mata merah, yaitu:

  1. Kontak langsung dengan air mata, jari, atau sapu tangan orang yang sakit konjungtivitis.
  2. Terpapar alergen (zat pencetus alergi).
  3. Sering memakai lensa kontak, terutama pemakaian selama seminggu (biasanya tipe yang bisa digunakan terus selama 7 hari dan tidak dilepas sebelum tidur).

Gejala Konjungtivitas

  • Mata merah.
  • Sering mengeluarkan air mata dan mukus karena kelenjar yang memproduksi keduanya menjadi terlalu aktif akibat peradangan.
  • Rasa panas.
  • Mata seperti terganjal.
  • Alis agak lengket.
  • Mata gatal.
  • Bersin dan hidung tersumbat.
  • Mata kering dan sakit.
  • Titik-titik kecil di dalam kelopak mata bagian atas (alergi terhadap lensa kontak).
  • Kelenjar getah bening yang membesar di depan telinga.

Pencegahan Konjungtivitas

Konjungtivitis infektif mudah menular, sehingga kebersihan sangatlah penting untuk mencegah penyebarannya:

  1. Jangan menggaruk atau menyentuh mata Anda, karena bisa memperburuk keadaan dan mudah menulari orang lain.
  2. Cuci tangan secara teratur, bila tidak ada sabun dan air gunakanlah hand sanitiser.
  3. Hindari penggunaan barang pribadi bersama-sama penderita, misalnya handuk, kacamata, dan benda lain yang dipakai di mata.
  4. Cucilah pakaian sampai bersih. Gantilah seprai ranjang, bantal, dan handuk dengan teratur. Rendam di air panas dan deterjen.

Diagnosis Konjungtivitas

Diagnosis dilakukan dokter dengan cara memeriksa mata dan menanyakan gejala yang dialami untuk menentukan perawatan yang akan dilakukan, serta menentukan konjungtivitis tipe apa yang diderita oleh pasien.

Jika konjungtivitis dicurigai terjadi karena alergi, maka tes alergi juga dibutuhkan agar penderita dapat menghindari alergen di masa mendatang.

Berikut ini adalah beberapa kondisi parah yang memerlukan pemeriksaan lanjutan:

Kornea membengkak dan muncul luka terbuka atau disebut dengan keratitis.
Pembengkakan lapisan tengah mata yang menyebabkan sakit kepala, mata berair, dan terasa sakit. Kondisi ini disebut dengan iritis.
Penyakit glaukoma akut yang menyebabkan munculnya tekanan pada mata dan rasa sakit.
Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata harus segera dilakukan jika bayi yang baru lahir menderita konjungtivitis infektif.

Pengobatan Konjungtivitas

Obat tetes mata antibiotik bisa digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri pada konjungtivitis yang parah, namun kebanyakan konjungtivitis tidak memerlukan perawatan karena biasanya gejala akan hilang dalam dua pekan.

Anda bisa mengontrol konjungtivitas jika memerhatikan beberapa hal:

  1. Hindari kontak langsung dengan siapapun jika Anda menderita mata merah. Gunakan sapu tangan atau tisu untuk membersihkan kotoran mata
  2. Sering cuci tangan.
  3. Gunakan handuk, lap, dan bantal yang terpisah dari keluarga Anda di rumah.
  4. Buang kosmetik mata yang sudah lama dan jangan berbagi kosmetik mata dengan orang lain.
  5. Hindari penyebab alergi.
  6. Gunakan pengobatan sesuai yang diinstruksikan.
  7. Jangan sentuh area yang terinfeksi atau mengucek mata Anda.
  8. Jangan gunakan lensa kontak sampai pengobatan selesai. Anda mungkin juga harus mengganti lensa kontak Anda atau kotak penyimpanannya.

Komplikasi Konjungtivitis

Kebanyakan konjungtivitis yang terjadi tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, tapi bisa menimbulkan frustrasi, terutama pada penderita konjungtivitis alergi. Hal ini dikarenakan penderita akan mengalami rasa gatal hebat yang terus menerus.
Komplikasi konjungtivitis yang tergolong serius, namun jarang terjadi adalah jaringan parut pada mata (akibat konjungtivitis alergi yang parah) dan meningitis( jika infeksi menyebar).

Komplikasi akibat konjungtivitis dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Berikut ini adalah komplikasi konjungtivitis yang dapat terjadi berdasarkan tipe konjungtivitis yang diderita.

Konjungtivitis Neonatal
Konjungtivitis infektif yang terjadi pada bayi yang baru lahir hingga usia 28 hari harus segera ditangani karena bisa menyebabkan kerusakan penglihatan permanen. Kebanyakan bayi yang terkena konjungtivitis infektif bisa sembuh total dan hanya sedikit yang mengalami komplikas

Punctate Epithelial Keratitis
Keratitis dapat terjadi akibat konjungtivitis yang menyebabkan kornea membengkak atau mengalami peradangan. Kondisi ini menyebabkan mata sensitif terhadap cahaya dan terasa sakit. Kebutaan bisa terjadi jika tukak muncul di kornea dan menyebabkan kerusakan permanen.

Konjungtivitis Infektif
Konjungtivitis bisa berlangsung selama beberapa bulan jika disebabkan oleh penyakit menular seksual, seperti chlamydia (klamidia).